Jumat, 01 Januari 2010

KRIM PELEMBAB

FORMULASI KRIM PELEMBAB

I. TUJUAN

1. Mengetahui cara membuat sediaan krim pelembab yang aman dan nyaman digunakan.

2. Mengetahui metode-metode pembuatan krim yang tepat.

3. Dapat membandingkan dua formulasi sediaan vanishing cream dengan menggunakan variasi konsentrasi fase minyak yang berbeda-beda.

4. Mampu mengevaluasi sediaan krim pelembab.

II. DASAR TEORI

Kosmetik pelembab (moisturizers) merupakan kosmetik perawatan yang bertujuan untuk mempertahankan struktur dan fungsi kulit dari berbagai pengaruh seperti udara kering, sinar matahari terik, angina keras, umur lanjut, berbagai penyakit kulit maupun penyakit dalam tubuh yang mempercepat penguapan air sehingga kulit menjadi lebih kering.

Secara alamiah kulit telah berusaha untuk melindungi diri dari kekeringan dengan adanya tabir lemak di atas kulit yang diperoleh dari kelenjar lemak dan sedikit kelenjar keringat dari kulit serta adanya lapisan kulit luar yang berfungsi sebagai sawar kulit. Namun dalam kondisi tertentu faktor perlindungan alamiah(natural moisturizing factor/ NMF) tersebut tidak mencukupi. Oleh karena itu, dibutuhkan perlindungan tambahan non alamiah yaitu dengan cara memberikan kosmetik pelembab kulit.

Cara mencegah penguapan air dari sel kulit adalah:

  1. Menutup permukaan kulit dengan minyak (oklusif), seperti minyak hidrokarbon, waxes, minyak tumbuhan dan hewan, asam lemak, lanolin, asam stearat, fatty alcohols, setil alcohols, lauril alcohol, propilen glikol, wax esters lanolin, beeswax, steril stearat, carnauba, candelilla, lesitin, kolesterol.
  2. Memberikan humektan yaitu zat yang mengikat air dari udara dan dalam kulit. Misalnya: gliserin, propilenglikol, sorbitol, gelatin, asam hialuronat, dan beberapa vitamin.
  3. Membentuk sawar terhadap kehilangan air dengan memberikan zat hidrofilik yang menyerap air. Misalnya: hyaluronic acid.
  4. Memberikan tabir surya agar terhindar dari pengaruh buruk sinar matahari yang mengeringkan kulit.

Bahan utama dalam krim pelembab adalah lemak,(lanolin, lemak wool, fatty alcohol, gliserol monostearat dan lain-lain). Campuran minyak seperti minyak tumbuhan lebih baik daripada mineral oil karena lebih mudah bercampur dengan lemak kulit, lebih mampu menembus sel-sel stratum corneum dan memiliki daya adhesi yang lebih kuat.

Berbagai jenis krim seperti krim malam, massage krim, dan krim dengan kandungan minyak yang tinggi, semuanya bisa dikategorikan moisturizing dan emmolient dengan komposisi dan karateristik basis yang digunakan berupa vanishing atau foundation cream. Vanishing cream merupakan emulsi asam stearat yang terkesan menghilang setelah dioleskan dipermukaan kulit.

Preparat tipe emulsi O/W merupakan yang paling cocok untuk krim pelembab. Krim O/W kaya akan minyak dan selalu berisi humektan(gliserol, sorbitol dan lainnya). Tetapi, krim dengan tipe W/O juga ada, contohnya krim malam yang terasa lebih hangat, lebih lengket dan lebih kental. Karena kandungan minyak tumbuhannya tinggi preparat ini mudah menjadi tengik, maka perlu penambahan antioksidan. Kosmetik ini juga perlu dilindungi dari mikroorganisme dengan penambahan bahan pengawet. Parfum juga tidak lupa ditambahkan untuk memperbaiki bau sehingga enak dicium.

III. P R A F O R M U L A S I

* Coconut Oil (minyak kelapa)

Sinonim : oleum vegetable, oleum neutralea, Medium Chain Triglycerides.

Fungsi : pengemulsi, solvent, suspending agent, therapeutic agent.

Pemerian : cairan minyak berwarna kuni, tidak berbau dan tidak berasa. Minyak membeku pada suhu 0 0C dan viskositas menjadi rendah bila mendekati suhu 0 0C.

OTT : polistiren, polietilen, dan polipropilen.

* Asam stearat

Sinonim : Crosterene, hystrene, Pristerene

Rumus empiric : C18H36O2

Berat Molekul : 284,47

Struktur : CH3(CH2)16COOH

Fungsi : pengemulsi, solubilizing agent

Ointments/ krim : 1-20%

Pemerian : kristal atau serbuk putih atau kuning, bau lemah

Kelarutan : benzen larut,etanol larut, propilen glikol larut, air praktis tidak larut

OTT : agen pengoksidasi

* Gliserin

Sinonim : trihidroxypropane glycerol

Rumus empiric : C3H8O3

Berat molekul : 92,09

Struktur : CH2 OH

CH OH

CH2 OH

Fungsi : - Antimikroba>20%

- Emolient up to 30

- Humektan up to 30

- Plasticizer

- Solvent

- Pemanis

- Agen pengion

Pemerian : larutan bening tidak berwarna, tidak berbau, kental, larutan higroskopis, rasa manis seperti sukrosa.

Kelarutan : etanol 95% mudah larut, minyak praktis tidak larut, air mudah larut.

OTT : agen pengoksidasi seperti potasium klorat atau potasium permanganat.

* Borax/ Natrium tetraborat

Rumus molekul : Na2B4O7.10H2O

Berat molekul : 381,37

Pemerian : hablur transparan tidak berwarna atau serbuk hablur putih, tidak bebrbau, rasa asin dan basah, dalam udara kering merapuh.

Kelarutan : etanol 96% tidak larut, gliserol 1:1 mudah larut, air mudah larut.

Fungsi : antiseptikum extern.

* Triethanolamine (TEA)

Rumus empiris : C6H15NO3

Berat molekul : 149,19

Struktur formula : N(CH2CH2OH)3

Fungsi : agen pengalkali,agen pengemulsi

Pemerian : cairan bening tidak berwarna sampai kuning pucat, bau amoniak lemah

Kelarutan : etanol 95% larut, metanol larut, water larut

OTT : golongan amin dan hidroksi

* Nipagin/ Methylparaben

Sinonim : Solbrol M, Tegosept M, Nipagin M.

Rumus empirik : C8H8O3

Berat molekul : 152,15

Fungsi : antimikroba untuk sediaan topikal 0,02%-0,3%

Pemerian : kristal putih, tidak berbau, panas

Kelarutan : etanol 1:2, gliserin 1:60, air 1:400,

OTT : besi, mengalami hidrolisis dengan basa lemah dan asam kuat.

* Cethyl alkohol

Sinonim : n- hexadecyl alcohol, palmityl alcohol

Rumus empirik : C16H34O

Berat molekul : 242,44

Struktur : CH3(CH2)14CH2OH

Fungsi : pembasah 5%, pengemulsi 2-5%, stiffening 2-10%, emolient 2-5%.

Pemerian : bentuknya seperti lilin, lapisan putih, granul, bau lemah.

OTT : pengoksidasi kuat.

* Butylated Hydroxytoluene (BHT)

Sinonim : Sustane, Tenox BHT, Tropanol, Vianol.

Rumus empiris : C15H24O

Berat molekul : 220,35

Fungsi : antioksidan untuk sediaan topikal 0,0075-0,1%

Pemerian : kristal putih atau kuning pucat, bau lemah.

OTT : pengoksidasi kuat seperti peroksida dan permanganat.

* Natrium Hidroksida (NaOH)

Berat molekul : 40

Pemerian : Bentuk batang, butiran, massa hablur/keping, kering, keras, rapuh serta menunjukkan susunan hablur putih, mudah meleleh, basah, sangat alkalis dan korosif, segera menyerap karbondioksida

Kelarutan : etanol 96% dan air sangat mudah larut

Fungsi : zat tambahan yang bersifat basa.

IV. F O R M U L A S I

FORMULA A

Vanishing cream ( 50g )

Formula 1

Formula 2

Formula 3

Minyak kelapa 15%

Asam stearat 14%

Gliserin 10%

Borax 0,25%

TEA 1%

Nipagin 0,1-0,2%

Aquades ad 100%

Minyak kelapa 10%

Asam stearat 14%

Gliserin 10%

Borax 0,25%

TEA 1%

Nipagin 0,1-0,2%

Aquades ad 100%

Minyak kelapa 5%

Asam stearat 14%

Gliserin 10%

Borax 0,25%

TEA 1%

Nipagin 0,1-0,2%

Aquades ad 100%

FORMULA B

Vanishing cream ( 50g )

Formula 1

Formula 2

Formula 3

Coconut oil 5%

Asam stearat 20%

BHT 0.001%

Cetyl alcohol 0,5%

TEA 1,2%

NaOH 0,01%

Gliserin 8%

Nipagin 0,01%

Parfum 3 tetes

Aquades ad 100%

Coconut oil 10%

Asam stearat 20%

BHT 0.001%

Cetyl alcohol 0,5%

TEA 1,2%

NaOH 0,01%

Gliserin 8%

Nipagin 0,01%

Parfum 3 tetes

Aquades ad 100%

Coconut oil 10% *

Asam stearat 20%

BHT 0.001%

Cetyl alcohol 0,5%

TEA 1,2%

NaOH 0,01%

Gliserin 8%

Nipagin 0,01%

Parfum 3 tetes

Aquades ad 100%

V. ALAT DAN BAHAN

Alat:

  1. mortar besar & alu 1 buah
  2. mortar kecil & alu 1 buah
  3. gelas ukur 100 ml 1 buah
  4. gelas ukur 5 ml 1 buah
  5. erlenmeyer 10 ml 2 buah
  6. beaker glass 10 ml 2 buah
  7. cawan penguap 1 buah
  8. pipet tetes secukupnya
  9. batang pengaduk 1 buah
  10. spatula 2 buah
  11. cover dan objek glass @ 1 buah
  12. sudip 2 buah
  13. pot obat 50 ml 1 buah
  14. timbangan dan anak timbangan
  15. penangas air

Bahan:

  1. Minyak kelapa
  2. Asam stearat
  3. Gliserin
  4. Borax
  5. TEA
  6. Nipagin
  7. Cetyl alkohol
  8. NaOH
  9. Parfum
  10. BHT

VI. PROSEDUR KERJA

Cara 1:

  1. Fase minyak (minyak dan bahan yang bercampur atau larut dengan minyak) dipanaskan diatas penangas air hingga suhu 700 C hingga semua bahan lebur.
  2. Pada saat yang sama fase air(bahan yang bercampur atau larut dengan aquades) dilarutkan dalam air panas yang kira-kira memiliki suhu 700 C hingga semua bahan larut.
  3. Fase minyak dan fase air dicampurkan didalam lumpang dan digerus hingga terbentuk massa cream. Setelah itu baru tambahkan sedikit demi sedikit air panas ad 50 ml.
  4. Pada formulasi B ditambahkan parfum setelah suhu cream turun hingga 350C, digerus kembali hingga homogen, dan dibiarkan hingga dingin.
  5. Evaluasi cream dilakukan setelah krim selesai dibuat (homogenitas, viskositas, stabilitas dan penampilan cream).
  6. Krim yang sudah jadi dimasukkan ke dalam wadah (pot obat) dan diberi etiket.
  7. Selama satu minggu diamati kembali homogenitas, viskositas, stabilitas dan penampilan sediaan krim tersebut.

Cara 2:

1. Fase minyak (minyak dan bahan yang bercampur atau larut dengan minyak) dan fase air (aquades dan bahan yang bercampur atau larut dengan aquades) dicampurkan ke dalam cawan penguap.

  1. Campuran dari kedua fase dipanaskan diatas penangas air hingga suhu 700C ad semua bahan lebur.
  2. Campuran bahan yang telah lebur dituang ke dalam lumpang dan digerus hingga terbentuk massa cream.
  3. Pada formulasi B ditambahkan parfum setelah suhu cream turun hingga 350 C dan diaduk hingga homogen, dibiarkan hingga dingin.
  4. Evaluasi cream dilakukan setelah krim selesai dibuat (homogenitas, viskositas, stabilitas dan penampilan cream).
  5. Krim yang sudah jadi dimasukkan ke dalam wadah (pot obat) dan diberi etiket.
  6. Selama satu minggu diamati kembali homogenitas, viskositas, stabilitas dan penampilan sediaan krim tersebut.

VII. DATA HASIL PENGAMATAN

Pengamatan Setelah Sediaan Selesai Dibuat:

Parameter

Krim kelompok 1

(Formula A1)

Krim kelompok 2

(Formula A2)

Krim kelompok 3

(Formula A3)

Viskositas

++

+++

++

Homogenitas

++

+

+++

Stabilitas

+++

+++

+++

Penampilan:

- Warna

- Bau

+++

+++

+++

+++

+++

+++

Parameter

Krim kelompok 4

(Formula B1)

Krim kelompok 5

(Formula B2)

Krim kelompok 6

(Formula B3)

Viskositas

++++

+++

+

Homogenitas

+++

+

+++

Stabilitas

+++

+++

+++

Penampilan:

- Warna

- Bau

+++

+++

+++

+++

+++

+++

Keterangan :

Viskositas:

+ : encer

++ : sedang

+++ : kental

++++ : kental sekali (keras)

Homogenitas, stabilitas dan penampilan:

+ : kurang

++ : cukup

+++ : baik

Pengamatan satu minggu berikutnya:

Parameter

Krim kelompok 1

Krim kelompok 2

Krim kelompok 3

Viskositas

++

+++

++

Homogenitas

++

+

+++

Stabilitas

+++

+++

++*

Penampilan:

- Warna

- Bau

+++

+++

+++

+++

+++

+++

*) Terjadi perubahan berupa penurunan tingkat kestabilan krim.

Parameter

Krim kelompok 4

Krim kelompok 5

Krim kelompok 6

Viskositas

++++

+++

+

Homogenitas

+++

+

+++

Stabilitas

+++

+++

+++

Penampilan:

- Warna

- Bau

+++

+++

+++

+++

+++

+++

VIII. PEMBAHASAN

Pada praktikum kosmetologi ini kami membuat sediaan krim pelembab dengan menggunakan bahan utama Coconut oil. Kosmetik pelembab (moisturizers) merupakan kosmetik perawatan yang bertujuan untuk mempertahankan struktur dan fungsi kulit dari berbagai pengaruh seperti udara kering, sinar matahari terik, angin keras, umur lanjut, berbagai penyakit kulit maupun penyakit dalam tubuh yang mempercepat penguapan air sehingga kulit menjadi lebih kering. Pelembab yang kami buat merupakan sediaan dengan basis vanishing cream, dimana dalam basis ini terdapat lebih banyak fase air daripada fase minyak. Krim didefinisikan sebagai cairan kental atau emulsi setengah padat baik bertipe air dalam minyak atau minyak dalam air, dan termasuk dalam sediaan setengah padat berupa emulsi kental yang mengandung tidak kurang dari 60% air, dimaksudkan untuk pemakain luar. Sedangkan yang biasa disebut dengan vanishing cream pada dasarnya berupa emulsi minyak dalam air (M/A), mengandung air dalam persentase yang besar dan asam stearat. Setelah pemakaian krim air menguap meninggalkan sisa berupa selaput asam stearat yang tipis. Vanishing cream lebih mudah dibersihkan dan menguapnya air dapat menyegarkan jaringan. Vanishing cream terkesan menghilang dan nyaman dipakai setelah dioleskan dipermukaan kulit.

Kami membuat dua formula sediaan krim pelembab dengan bahan tambahan yang berbeda, masing-masing formula dibuat variasi konsentrasi bahan utamanya (Coconut oil), yaitu 15%, 10%, dan 5%. Berat krim pelembab dalam satu formula yang kami buat adalah 50 gram.

Bahan tambahan yang kami gunakan dalam formula pertama (formula A) adalah asam stearat yang berfungsi sebagai pengemulsi, gliserin sebagai emolient, borax dan nipagin yang berfungsi sebagai pengawet atau antimikroba, TEA sebagai pengemulsi, dan terakhir ad air 50 gram. Sedangkan, formula B menggunakan bahan tambahan sebagai berikut, asam stearat sebagai pengemulsi, cetyl alkohol dan gliserin sebagai emolient, BHT sebagai antioksidan, TEA sebagai pengemulsi, nipagin sebagai pengawet, NaOH sebagai larutan penambah sifat alkali sediaan, dan ditambah oleum rosae sebanyak 3 tetes sebagai pengharum untuk memperbaiki bau sediaan.

Bahan utama pembuatan krim pelembab kami adalah coconut oil yang merupakan minyak nabati. Minyak nabati cenderung lebih mudah bercampur dengan lemak kulit, lebih mampu menembus sel-sel stratum korneum, dan memiliki daya adhesi yang lebih kuat daripada minyak mineral, seperti paraffin liquid. Coconut oil termasuk ke dalam fase minyak, selain itu fase minyak juga berisi bahan tambahan yang larut dalam minyak, seperti asam stearat dan BHT. Sedangkan bahan yang larut dalam fase air, yaitu gliserin, boraks, TEA, nipagin, cetyl alkohol, dan NaOH.

Pembuatan krim dapat dilakukan dengan dua metode berbeda. Metode pertama yaitu bahan-bahan yang larut dalam minyak (fase minyak) dilebur bersama di atas penangas air pada suhu 700C sampai semua bahan lebur, dan bahan-bahan yang larut dalam air (fase air) dilarutkan terlebih dahulu dengan air panas juga pada suhu 700C sampai semua bahan larut, kemudian baru dicampurkan, digerus kuat sampai terbentuk massa krim. Sedangkan dengan metode kedua, semua bahan, baik fase minyak maupun fase air dicampurkan untuk dilebur di atas penangas air sampai lebur, baru kemudian langsung digerus sampai terbentuk massa krim. Baik metode pertama maupun metode kedua, sama-sama menghasilkan sediaan krim yang stabil, bila proses penggerusan dilakukan dengan cepat dan kuat dalam mortar yang panas sampai terbentuk massa krim. Tetapi dengan metode kedua, kita dapat menggunakan peralatan yang lebih sedikit daripada metode pertama.

Formula A

Pengamatan setelah sediaan selesai dibuat:

Parameter

Krim kelompok 1

(Formula A1)

Krim kelompok 2

(Formula A2)

Krim kelompok 3

(Formula A3)

Viskositas

++

+++

++

Homogenitas

++

+

+++

Stabilitas

+++

+++

+++

Penampilan:

- Warna

- Bau

+++

+++

+++

+++

+++

+++

Pengamatan satu minggu berikutnya:

Parameter

Krim kelompok 1

(Formula A1)

Krim kelompok 2

(Formula A2)

Krim kelompok 3

(Formula A3)

Viskositas

++

+++

++

Homogenitas

++

+

+++

Stabilitas

+++

+++

++*

Penampilan:

- Warna

- Bau

+++

+++

+++

+++

+++

+++

Berdasarkan data hasil pengamatan, formula A1 dan formula A3 mengandung masing-masing 15% dan 5% coconut oil. Viskositas kedua formula ini tidak terlalu kental dan tidak terlalu keras (sedang), dan formula A3 cenderung lebih meresap di tangan, hal ini dikarenakan pada formula A3 fase minyak yang digunakan jauh lebih sedikit, sehingga krim tidak terlalu lengket saat dioleskan di permukaan kulit. Selain itu formula A3 juga lebih lembut, ini menunjukan bahwa formula A3 lebih homogen daripada formula A1, pada formula A3 tidak terdapat adanya butiran-butiran dari partikel yang tidak larut. Sementara pada formula A1 dan A2 lebih terasa adanya butiran partikel dari bahan yang tidak larut, kemungkinan hal itu disebabkan oleh kristal dari boraks atau nipagin belum larut sempurna dalam air panas. Padahal jika dilihat dari monografi (FI ed.3) kedua bahan ini termasuk bahan yang mudah larut dalam air panas. Kedua bahan menjadi tidak larut juga bisa disebabkan oleh prosedur pengerjaannya saat di lab kurang sempurna. Saat proses pelarutan dan penggerusan bahan tersebut mungkin kuat, sehingga menjadikan bahan ini tidak larut. Bila bahan yang belum larut sempurna ini dicampurkan begitu saja ke dalam fase minyak, maka sediaan krim akan terasa kasar saat dipakai, terasa seperti ada butiran-butiran partikel.

Namun setelah dilakukan pengamatan kembali pada minggu berikutnya setelah praktikum, krim A3 cenderung tidak stabil bila dilihat secara fisik. Pada bagian atasnya terlihat seperti ada pemisahan berupa 2 lapisan yang sangat tipis, krim terlihat ’pecah’ meskipun hanya dibagian atasnya saja. Sementara krim A1 dan A2 terlihat lebih stabil secara fisik, tidak terlihat adanya pemisahan pada sediaan. Pemisahan seperti yang ditunjukkan oleh krim A3 merupakan salah satu dari fenomena ketidakstabilan emulsi (krim = emulsi kental), yaitu flokulasi dan creaming. Kedua fenomena ini terjadi karena penggabungan partikel yang disebabkan oleh adanya energi bebas permukaan semata. Emulsi masih dapat diperbaiki dengan pengocokkan karena lapisan film antar permukaannya (lapisan monomolekuler) masih ada. Flokulasi adalah peristiwa terbentuknya kelompok-kelompok globul yang letaknya tidak beraturan dalam suatu emulsi. Creaming adalah peristiwa terjadinya lapisan-lapisan dengan konsentrasi yang berbeda-beda dalam suatu emulsi.

Formula B

Pengamatan setelah sediaan selesai dibuat:

Parameter

Krim kelompok 4

(Formula B1)

Krim kelompok 5

(Formula B2)

Krim kelompok 6

(Formula B3)

Viskositas

++++

+++

+

Homogenitas

+++

+

+++

Stabilitas

+++

+++

+++

Penampilan:

- Warna

- Bau

+++

+++

+++

+++

+++

+++

]

Pengamatan satu minggu berikutnya:

Parameter

Krim kelompok 4

(Formula B1)

Krim kelompok 5

(Formula B2)

Krim kelompok 6

(Formula B3)

Viskositas

++++

+++

+

Homogenitas

+++

+

+++

Stabilitas

+++

+++

+++

Penampilan:

- Warna

- Bau

+++

+++

+++

+++

+++

+++

Sementara untuk formula B, nilai viskositas formula B1 sangat kental dibandingkan 2 formula lainnya, sehingga krim yang dihasilkan menjadi keras. Hal ini karena, konsentrasi coconut oil yang digunakan hanya 5%, sehingga sediaan lebih bersifat vanishing cream, lebih mudah menembus lapisan stratum corneum. Untuk dua formula lainnya menggunakan konsentrasi coconut oil sebanyak 10%, dan itu berarti akan membuat krim menjadi lebih lengket dan viskositasnya lebih rendah, sehingga krim yang dihasilkan lebih encer dari formula B1. Semakin besar konsentrasi coconut oil yang digunakan, maka krim tersebut sebenarnya sangat baik sebagai kosmetik pelembab, karena minyak akan menutup permukaan kulit dan mencegah penguapan air dari sel kulit. Perbedaan nilai viskositas yang terjadi antara krim B2 dan B3 meski keduanya memiliki formula yang sama disebabkan pada proses pengerjaannya, yaitu saat penambahan air ad 50 gram bisa jadi terlalu berlebih pada krim B3, dan ini menyebabkan krim B3 menjadi ’sangat encer’. Krim B2 juga bukan yang terbaik dari ketiga formula krim yang kami buat. Karena krim B2 ini, cenderung lebih tidak homogen. Ketidakhomogenan krim bisa terlihat pada saat dioleskan pada permukaan kulit. Pada krim B2 masih terdapat butiran partikel yang tidak larut. Butiran partikel ini disebabkan dari kristal-kristal nipagin yang belum larut sempurna dalam fase air. Sementara untuk nilai stabilitas, bila dilihat secara visual ketiga krim ini memiliki stabilitas yang baik. Tidak terjadi flokulasi dan creaming, apalagi sampai koelesen atau demulsifikasi baik setelah krim selesai dibuat, maupun setelah pengamatan satu minggu berikutnya.

Kedua formula pelembab yang kami buat dengan basis vanishing cream ini, masih belum sempurna, sehingga perlu latihan kembali. Dengan variasi konsentrasi coconut oil yang digunakan, formula dengan konsentrasi coconut oil yang paling besarlah yang baik sebagai kosmetik pelembab, karena minyak dapat menutup permukaan kulit, sehingga penguapan air dari sel kulit dapat dicegah, dan kulit menjadi lebih lembab.

IX. KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan diatas, maka dapat dibuat kesimpulan:

1. Krim dibuat dari campuran minyak dengan air yang didispersikan homogen dengan bantuan emulgator sebagai bahan pengemulsi. Krim yang nyaman digunakan (tidak lengket dan mudah meresap ke dalam kulit) adalah krim yang mengandung fase air lebih besar daripada fase minyak (M/A) atau dikenal dengan basis vanishing cream.

2. Krim dapat dibuat dengan dua metode berbeda, yaitu metode pertama fase minyak dan fase air dipisah, dan keduanya dipanaskan pada suhu 700C. Sedangkan metode kedua fase minyak dan fase air dicampur, dilebur bersama di atas penangas pada suhu 700C, baru kemudian digerus sampai terbentuk massa krim.

3. Dengan variasi konsentrasi coconut oil yang digunakan, maka formula dengan konsentrasi coconut oil yang paling besarlah yang paling baik sebagai kosmetik pelembab, karena minyak dapat menutup permukaan kulit, sehingga penguapan air dari sel kulit dapat dicegah, dan kulit menjadi lebih lembab.

4. Evaluasi sediaan yang dilakukan antara lain homogenitas, viskositas, stabilitas, dan penampilan.

DAFTAR PUSTAKA

Anief, Muhammad. 1997. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta : UGM press.

Anief, Muhammad. 1993. Farmaseutika Dasar. Yogyakarta : UGM press.

Ansel, Howard.1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Edisi IV. Jakarta : UI press.

Harjasaputra, Purwanto, dkk. 2002. Data Obat di Indonesia. Jakarta : Grafidian Medipress.

Panitia Farmakope Indonesia. 1978. Farmakope Indonesia. Edisi III. Jakarta : Depatemen Kesehatan RI.

- Panitia Farmakope Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta : Departemen Kesehatan RI.

Reynold, James E F. 1982. Martindale The Extra Pharmacopoeia. Twenty Eight edition. London : The Pharmaseutical Press.

Waide, Ainley, and Waller, Paul J. 1994. Handbook of Pharmaseutical Exipients. Second edition. Washington : American Pharmaseutical Association

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar